Sudah Siapkah Dana untuk Anakku?

Sabtu, 25 Januari 2014 dalam rangka ulang tahun ke 4, The Urban Mama mengadakan talkshow Healthy Family. Salah satu acaranya mengenai pendidikan anak bersama Teteh Ligwina Hananto. Setelah saya tahu ada acara ini, tanpa berpikir lama langsung daftar dan mendapatkan urutan nomor 2 yeayy.. Kapan lagi ada seminar dari teh Wina hanya bayar 100 ribu kalau bukan TUM yang ngadain hehehe.

Sebagai ibu baru, saya dituntut untuk belajar banyak hal. Mulai dari masa hamil, menyusui, cara membesarkan anak hingga yang tidak kalah penting bagaimana mempersiapkan dana pendidikan Dede Fatih nantinya. Kebetulan suami saya itu orangnya menyerahkan semua keputusan terkait keuangan keluarga kepada saya, yang artinya saya harus cerdas dalam mengelola penghasilan suami dan penghasilan saya juga. 

Pertama, Teh Wina membahas tentang Financial Check Up. Financial Check Up itu isinya tentang sebenarnya kita punya apa aja sih. Semua diuraikan satu persatu tentang asset dan kewajiban, jadi Total Network = Total Asset - Total Utang. Biasanya kita tuh jarang bikin yang satu ini, alasannya karena takut ketauan penyakit keuangannya dan juga karena faktor malessss hehe. Dengan dibuatnya Financial Check Up kita bisa tahu real harta kita. Kata Teh Wina jangan sombong punya rumah 1 M, padahal masih punya pinjeman KPR 980 juta, yang artinya kita punya 20 juta bukan 1 M *ngangguk-ngangguk (tapi tetap saja sampai sekarang belum dibuat karena faktor M itu >.<')

Kedua, dibahas tentang prosentase pembagian keuangan perbulan. Sebenarnya berhasil atau tidaknya mengelola keuangan bukan hanya dilihat dari pendapatannya saja tapi yang terpenting itu dari SISAnya. Penghasilan berapapun kalau tidak bisa mengaturnya, yah akan habis juga toh. Ada yang penghasilan 5 juta, sisa 2 juta; penghasilan 10 juta, sisa 2 juta, penghasilan 30 juta sisa 2 juta, nah lho bisa begitu ya. Berikut ini pembagian pos-pos pendapatan yang ideal:
 
Pos pertama adalah utang, jadi kewajiban yang kita angsur maksimal 30%. Pos ke 2-8, rentang besarnya antara 20 hingga 40%. Setiap orang beda-beda dalam pemakaiannya ada yang besar di rumah tangga, ada yang besar di keluarga dll. Untuk transportasi agak susah ditekan, untuk anak juga harus kita persiapkan misalnya popoknya, imunisasinya yang ternyata tidak murah *tapi ada beberapa imunisasi yang biasanya ditanggung perusahaan yakni imunisasi dasar. Sedangkan untuk pos pribadi sebaiknya disiapkan, boleh dong menikmati hasil dari kerja kita, kalau bahasa saya 'memberi hadiah kepada diri kita sendiri gitu lho. Kalau mengutip kata Teh Wina, kalau dilarang untuk pengeluaran pos ini juga tidak bakal didengerin hehe.

Tapi, lah kan belum 100%, nah SISA dari itu semua adalah INVESTASI yakni 10%-30%. Tabel pembagian pos ini juga berguna banget lho untuk mapping. Jadi kita bisa tahu nanti kira-kira dalam sebulan bakal ngalir kemana aja tuh dana kita. Misalnya sudah kita rencanakan 20% dari pos pribadi kita besarnya 1 juta, kalau kita mau belanja lagi, kita mikir deh "aduh..nanti ada pos lain yang keganggu nih"

Nah, fokus kali ini tentang investasi yang 10%-30% itu, yang salah satunya kita persiapkan untuk dana pendidikan buah hati. Ada teman saya yang melihat gambar disamping dijawab dengan "Lillahi Ta'ala, setiap anak punya rejekinya masing-masing". Tentu saya sependapat dengan dia bahwa rejeki Allah yang mengatur, tapi jangan sampai kita kalah sebelum berperang. Moso setiap anak kita masuk sekolah, kita ngarepin ada karung duit gitu turun dari langit *esmosi hehe. Semakin lama kita nabung bukankah nanti juga semakin ringan bebannya. Coba bedain misalnya nabung 6 juta untuk masuk TK, dengan yang 4 tahun sudah menabung sebelumnya atau yang baru 6 bulan baru mempersiapkan?

Ketika berbicara tentang biaya pendidikan, yang harus dibahas adalah sekolah seperti apa dulu. Kalau ingin sekolah internasional, kalau buat karyawan biasa seperti saya kayaknya agak susah dijangkau ya. Masih ada sekolah lain yang kualitasnya bagus juga kok, asal kita rajin hunting. Ada juga sekolah yang murah tapi karena kualitasnya kurang bagus jadinya harus memberi les belasan hingga jatuhnya malah lebih mahal. Kalau berpikir 'Ah, anak saya mah pasti dapat negeri yang favorit' eitss jangan samakan zaman sekarang dengan masa depan anak kita. Penduduk Indonesia 50% adalah usia muda yang artinya persaingan anak-anak kita akan semakin kompetitif. Ilustrasi berikut mengenai sekolah swasta adalah persiapan terakhir, syukur-syukur dapat negeri favorit

Berikut ilustrasi perhitungan biaya pendidikan swasta #ngurut dada.
Sumber.
Sumber
Inflasi TK-SMA Swasta dalam Negeri 16%
Inflasi S1 Swasta dalam Negeri 12%

Mulai ada gambaran kan, melihat tabel diatas. Ayo jangan pusing dulu, yukk jadi makin semangat kerja kurangi jajan!!! Berikut poin-poin (yang bisa saya tangkap ya di talkshownya :p) dalam mempersiapkan dana pendidikan:

  • Tidak ada yang namanya asuransi pendidikan, karena pendidikan tidak bisa diasuransikan. Kalau mau untuk dana pendidikan langsung tabungan saja
  • Untuk dana jangka pendek, sebaiknya investasikan ke logam mulia dan tabungan
  • Untuk dana jangka menengah (untuk kuliah), belajar dan investasikan dana mengenai reksadana Mengenai reksadana, untuk pembelian yang paling mudah bisa di Commonwealth Bank karena cukup net banking saja
  • Properti cocok untuk investasi, tapi kurang cocok untuk investasi pendidikan. Karena kalau kita butuh sebesar 5 juta untuk uang masuk SD, masa kita jual seluruh rumah atau jual hanya pintunya saja. Plus butuh waktu untuk menjualnya juga.
  • Untuk dana pendidikan PG, TK dan SD menabungnya di tabungan biasa saja

Menurut Teh Wina, kalau sudah selesai SD tuh rasanya plonggg banget. Diluar dari talkshow itu, Teh Wina cerita saat lahir anak pertama, tabungan beliau tersisa ratusan ribu saja dan beliau bisa bangkit kembali. Sepulangnya dari talkshow seperti dicharge lagi bahwa saya harus jadi wanita sukses seperti Teh Wina nantinya (ditambah setelah dibrowsing ternyata tanggal lahir kami sama *beda tahun saja)  Insya Allah

2 comments