Seminar Parenting: Belajar Bahagia, Bahagia Belajar

Lagi semangat berburu seminar parenting, kejar terus jika memungkinkan lokasi dan waktunya. Lihat di facebook, teman sedang menjadi panitia seminar parenting hari Sabtu, 17 Mei jam 9-12. Langsung daftar untuk saya dan suami, ternyata di hari H suami nglembur hiks nggak bisa ikutan, jadi pergi naik motor sendiri. Baru berangkat jam setengah 9 *ngurusin bocah dulu plus melawan males di weekend, lokasi acaranya di Kebagusan Pasar Minggu. Sotoy nggak nanya orang rumah ancer-ancernya dimana. Pergilah ke daerah pasar minggu dan nyasar. Ternyata Kebagusan itu jauh dari Pasar Minggunya dan setelah muter-muter baru sadar ternyata lokasinya lebih deket ke pintu timur Ragunan dan tempat itu nggak jauh dari rumah, maksimal paling 20 menit. Akibat sok tahu jalan dan kurang persiapan. Satu setengah jam muterin daerah pasar minggu, dan setelah telepon panitia ternyata tempatnya masuk di dalam komplek. Mau pulang aja ah rasanya, tapi terbayang wajah Dede jadi semangat lagi. Harus belajar!! Nyampe juga lokasi jam 10, Alhamdulillah masih pembukaan, acara utamanya belum dimulai.  *alamak panjang amat curhatnya >.<'

Seminar parentingnya temanya Belajar Bahagia, Bahagia Belajar. Pembicaranya Ibu Ida S Widayanti, sebelumnya saya belum kenal maklum masih newbie di dunia parentingan. Padahal beliau sudah buanyak menghasilkan karya. Dulu pernah jadi dosen politeknik di ITB tahun 1993 hingga 2004, pimred majalah ESQ Life & ESQ-News.com, penulis beberapa buku (aseeek dah ngantongin trilogy buku beliau) dll. Isi seminarnya bagus banget, cekidot:

Menurut Stephen R Covey, perbedaan problem anak di tahun 1940 adalah bicara sebelum giliran, permen karet, ribut, berlarian di lorong, potong antrian, melanggar aturan, pakaian dan buang sampah sembarangan. Mulai tahun 1990 penyalahgunakan obat bius dan alkohol, kehamilan, aborsi, memperkosa, merampok dan menyerang. Kalau anak jaman dulu lebih berkutat ke manner ya, tahun 1990 mulai menjalar ke kriminalitas..duhhh gimana tahun 2014.

Generasi anak sekarang disebut sebagai generasi Z, generasi digital. Di zaman digital, kalau kita tidak dapat memanfaatkan maka ada kecenderungan mulai dari adiksi pornografi, narkoba, game online dan peningkatan gangguan intelegensia kesehatan akibat berbagai adiksi. Akibatnya buanyaak mulai dari tidak bias konsentrasi, otak penuh, pikiran negarif, otak kanan dan kiri yang rusak, …*nggak sanggup lagi bahasnya

Pornografi adalah bencana, 5 tahun yang lalu Indonesia 10 besar pengakses pornografi di dunia maya dan sekarang direvisi malah menjadi juara satu *istighfar. Coba buktikan sendiri deh, kalau kita cari image di mbah google kalimat 'junior high school' isinya itu gedung sekolah, suasana di kelas, gambar anak smp. Sedangkan, kalau kita ketik di image 'anak smp' coba lihat hasilnya seperti apa. Bahwa ada suatu kondisi yang rentan untuk anak-anak kita, begitu mudahnya pornografi berseliweran di internet. Kerusakan otak pornografi itu ternyata penyusutannya lebih besar dari pecandu heroin. Menurut Neuroscinetist Donald Hilton, otak pecandu adiksi pornografi ringseknya sama dengan mobil yang bertabrakan. Sedangkan otak depan itu berfungsi untuk kebijaksanaan, spiritual dll.

Ibu Ida juga bercerita tentang Michael Jackson. Siapa yang tidak mengenalnya, MJ juga tidak dapat dilepaskan dari kontroversinya. Tapi tahukah sebenarnya apa penyebab semua itu? Ternyata masa kecilnya yang tidak bahagia. Coba kita tengok bait lagu yang berjudul childhood ciptaan MJ:

Have you seen my Childhood?
I'm searching for the world that I come from
'Cause I've been looking around
In the lost and found of my heart...
No one understands me
They view it as such strange eccentricities...
'Cause I keep kidding around
Like a child, but pardon me...

People say I'm not okay
'Cause I love such elementary things...
It's been my fate to compensate,
for the Childhood
I've never known...

Have you seen my Childhood?
I'm searching for that wonder in my youth
Like pirates in adventurous dreams,
Of conquest and kings on the throne...

Before you judge me, try hard to love me,
Look within your heart then ask,
Have you seen my Childhood?

People say I'm strange that way
'Cause I love such elementary things,
It's been my fate to compensate,
for the Childhood I've never known...

Have you seen my Childhood?
I'm searching for that wonder in my youth
Like fantastical stories to share
The dreams I would dare, watch me fly...

Before you judge me, try hard to love me.
The painful youth I've had

Have you seen my Childhood...

Tak hanya saat berlatih sang ayah menampar dan mencambuknya, namun juga saat naik panggung. Mungkin ayahnya ingin mengajarkan disiplin biar anaknya sukses tapi sebenarnya yang terjadi adalah luka batin yang tidak tersembuhkan. Supaya tidak lupa menutup jendela, ayahnya menggunakan topeng monster, masuk ke kamar saat MJ tertidur lalu teriak kenceng-kenceng. Hal ini membuat MJ trauma dan rasa tidak aman bahkan ketika ia berada di kamarnya sendiri, di masa dewasa dapat terlihat rasa tidak amannya dengan pengamanan bodyguard kemanapun MJ pergi.

Apa bagian dari tubuh MJ yang dioperasi? Betul, hidungnya. Kenapa? Karena saat ia kecil disebut sebagai big nose. Jadi jangan main-main dengan labeling terhadap anak karena akan menimbulkan luka batin ternyata. MJ membangun istana yang namanya Neverland, suatu imajinasi anak ada disana yang dulu tidak pernah dapat dirasakannya seperti dalam lirik lagunya (People say I'm not okay. 'Cause I love such elementary things. It's been my fate to compensate for the Childhood I've never known...). Berkali-kali oplas karena ketika ia bercermin ia masih melihat wajah ayahnya. Dan kebencian akan perlakuan ayahnya dapat terlihat pada surat wasiatnya yang sama sekali tidak mencantumkan nama ayahnya tapi Bubble, simpanse kesayangannya justru dapat sebagian warisannya agar memastikan hidup simpanse itu terjamin setelah MJ meninggal. Sebegitu dahsyat dampak masa kecil berpengaruh ke kehidupan dewasa.
Marilah kita berdoa kepada Allah supaya kita semua diberi kebahagian:
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan (kebaikan) di dunia dan kebahagiaan (kebaikan) di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka" (QS. Al-Baqarah:201)
Konsep Bahagia:
  • Kita tidak mungkin dapat memberi apa yang tidak kita miliki
  • Mana mungkin kita dapat memberi kebahagiaan pada anak jika kita tidak bahagia dengan pasangan
Teladan Pencari Ilmu Imam Ibnu Jauzi:
Di masa kanak-kanak, aku pergi dengan membawa beberapa lembar roti kering untuk belajar ilmu hadists. Aku duduk di pinggir sungai Isa (di kota Baghdad) untuk makan bekal rotiku. Aku tidak bisa makan roti itu kecuali setelah merendamnya beberapa saat di dalam air. Tapi, mataku tidak melihat selain kelezatan dan kenikmatan mendapat ilmu pengetahuan.
Usia dini dan pra baligh membentuk pola:
  1. Sangat menentukan bagi keberhasilan seseorang sepanjang hayatnya
  2. Membuat pola-pola pikir maupun perilaku yang akan digunakan saat dewasa
  3. Keberhasilan pembinaan kemandirian dan kedisiplinan pada usia dini akan berpengaruh terhadap produktivitas kerja di masa dewasanya
  4. Kemandirian dan kedisiplinan tidak didapatkan secara instan namun perlu proses panjang sejak usia dini
  5. Masa tersebut hanya datang sekali dan tidak dapat ditunda atau ditangguhkan kehadirannya
  • 50% kemampuan belajar seseorang ditentukan di 4 tahun pertamanya (0-4 tahun);
  • 30% berkembangnya pada 4 tahun berikutnya (4-8 tahun);
  • Hal-hal yang dipelajari seseorang sepanjang hidupnya dibangun diatas dasar ini (0-8 tahun)
  • 20% sisanya berkembangnya pada 10 tahun berikutnya (8-18 tahun)
Blue print sangat menentukan seperti apa yang tujuan yang akan dibentuk. Rumah saja perlu blue print terlebih dahulu ketika membangun, apalagi anak. Perlunya kesamaan blue print antara:
  1. Ayah dan ibu
  2. Rumah dan sekolah
  3. Lingkungan yang mendukung

Mengapa orangtua perlu terlibat?
  • Anak menghabiskan 15% waktunya di sekolah
  • 85% bahasa yang kita gunakan saat dewasa merupakan bahasa yang digunakan sejak bayisampai berumur 5 tahun
  • 50% adalah yang kita gunakan sampai berusia 3 tahun

Peran Ayah:
  • 70% penghuni penjara kelas berat karena tidak ada figure ayah yang umumnya figur ayah mengajarkan disiplin dan tanggung jawab
  • Ada kisah seorang ayah mencari anaknya Poco (seperti sebutan Ucok) di surat kabar. Isi iklannya: maafkan ayah Poco, ayah tunggu di kantor polisi hari sekian pukul sekian. Pada hari yang ditentukan, ada ratusan anak laki-laki memenuhi kantor polisi itu. Mereka adalah anak laki-laki dengan sebutan yang sama yakni poco. Betapa rindu mereka terhadap ayah.
Tentang dunia gadget pada anak
  • Anak tidak belajar proses. Ada yag disuruh buat huruf a tidak mau, dijawab karena tinggal diketik aja di keyboard, tinggal sebut mau berapa lembar
  • Sebaiknya kurang dari 2 tahun, 0% terpapar layar. Usia 2-7 tahun, 1 jam/minggu
  • Anak semakin digital, ternyata semakin tidak cerdas. Kalau saya baca, ada beberapa kasus anak terlambat bicara karena terlau banyak menghabiskan waktunya menatap layar.
Bagimana kalau anak sudah terlanjur kecanduan game
  • Lingkungan kompak
  • Kenalkan keasikan bermain outdoor
  • Jauhi dari rental
  • Langkah terakhir, temui Psikolog

Sebenarnya setelah selesai seminar parenting, saya merasa bersalaaaaah banget sama dede karena tidak dapat menyertai setiap langkah dalam hidupnya. Ibu Elly Risman di seminarnya dulu pernah bilang kalau anak sudah berusia diatas 8 tahun bahwa kepribadian anak sudah terbentuk *mewek. Bersalah banget, tapi untuk saat ini belum bisa melepaskan pekerjaan karena sebagai anak saya bertanggung jawab kepada ibu dan ayah yang sudah tidak bekerja lagi, suami juga masih perlu dukungan finansial. Ketika berkesempatan bebicara kepada ibu Ida, beliau berpesan kalau belum bisa melepaskan pekerjaan, kalau kita libur anak full diasuh oleh kita, liburkan pengasuh. Ya Allah, berikan hamba kekuatan untuk bisa membentuk jiwa yang berkarakter kepada Fatih, amanahMu.
Karakter seperti apa yang perlu dibentuk?
“Siapakah diantara orang mukmin yang paling cerdas? Nabi SAW menjawab, “Orang yang paling banyak ingat mati diantara mereka, dan orang yang paling baik persiapannya untuk kehidupan selanjutnya. Mereka itulah orang yang cerdas (HR Baihaqi Kitabuz Zuhud)

No comments