Pre Wedding Rush

Judul       : Pre Wedding Rush
Penulis    : Oktarina Prasetyowati
Penerbit  : Stiletto Book, Desember 2013
Halaman : 204
ISBN       : 978-602-7572-21-8
Harga      : Rp 42.000

Novel yang ditulis oleh Mba Okke 'Sepatumerah' menceritakan tentang kegalauan Menina saat sang cinta lama, Lanang masuk kembali ke kehidupannya disaat Menina sudah dilamar oleh kekasihnya, Dewo.  Siapakah yang Menina pilih antara Dewo seorang husband material yang dianggap belum terlalu dikenalnya karena baru 10 bulan berpacaran ataukah kembali ke Lanang sang petualang penuh kejutan yang dulu meninggalkannya begitu saja?

Novel ini disebutkan penulis sebagai sebuah cerita cinta di cerita gempa yang diceritakan mulai bab ke 8. Kita seperti dibawa masuk oleh penulis ke tahun 2006 silam saat kejadian gempa di Yogyakarta,  tentang banyaknya korban saat gempa,  keadaan di rumah sakit setelah gempa, bocah laki-laki yang kehilangan bapaknya hingga sampai tentang bapak dan ibu parlente yang diikuti wartawan yang hendak menterahkan bantuan hingga seperti proses wisuda. 

Kekuatan dari novel ini menurut saya yakni bahasanya yang sederhana, tidak butuh lama untuk membaca novel ini, tapi ternyata tetap membekas. Asyiknya mengikuti percakapan antara Lanang dan Menina yang renyah dan cerita cintanya yang seperti roller coster, penulis mampu mempermainkan perasaan pembaca kadang lucu melihat tingkah mereka berdua, kasihan kepada Dewo, pengen nonjok Lanang yang suka menggoda Menina, gemes pengen cubit Menina dan lega setelah akhirnya Menina secara tidak sengaja mendengar "sesuatu" tentang Lanang. Kalau saya pribadi saya sih sebel sama Menina yang tidak bersyukur, sudah dapat Dewo yang super baik malah main hati dengan Lanang, tapi disebutkan di bab 5.
Ketika bersama orang yang satu frekuensi dengan kita, tempat menjadi tidak penting lagi. Kebersamaan membuat segalanya terlupa, termasuk waktu.
Memang kalau emosi sudah bermain maka logika akan tersisihkan. Kekuatan lainnya dari novel ini karena cerritanya dekat dengan kehidupan sehari-hari misalnya tentang Agnes yang ingin menikah karena tuntutan lingkungan, tentang pasangan yang terlihat dari luar harmonis tapi ternyata ada riak besar di dalamnya, tentang perselingkuhan, tentang jiwa yang ingin bebas, tentang tanggung jawab dan tentang pilihan. Bahwa hidup adalah sebuah pilihan dan segala keputusan dalam hidup itu mestinya dilakukan dengan berpikir dan semua pilihan dilakukan berdasarkan keputusan sadar, bukan karena disuruh orang, bukan karena ngikut arus, bukan karena semua orang melakukan sesuatu, kita harus ngelakuin hal yang sama. 

Menurut saya, kekurangan pada novel ini adalah kurangnya tokoh sahabat, peran Agnes sebaiknya lebih diberdayakan. Mengaca pada diri saya sendiri, biasanya kan biasanya wanita hobinya curhat sama sahabat, teman, atau seorang yang dianggap bijak ataukah Melina yang terlalu mandiri mengambil sebuah tindakan besar tanpa minta pertimbangan atau masukan seseorang.

Novel ini layak dibaca apalagi yang sedang persiapan nikah, karena biasanya menjelang hari H akan banyak pre wedding rush, segala macam kerepotan dari mulai persiapan acara, fisik, materi dan tidak ketinggalan konflik hati yang mengusik, seperti yang dialami Menina, benar tidak sih keputusan saya, benar tidak sih dia orangnya? Kesimpulannya, ayook dibaca ^.^

No comments