Langkah Awal Menuju Scholarship

Gambar dari sini

"Perjalanan seribu mil
dimulai dari satu langkah"

Yup, begitulah menurut Lao Tzu, seorang filsuf dari China. Menurut saya bisa diartikan kalau langkah awal yang kita lakukan jangan pernah dianggap kecil karena itu merupakan jalan menuju kesuksesan tujuan. Atau jangan malas memulai suatu usaha, karena kalau kita tidak lakukan, kapan kita akan sampai? 

Saya berada disini, tidak pernah saya perkirakan. Jauh dari keluarga, jauh dari suami, jauh dari anak tercinta yang masih sangat butuh perhatian saya. Saya tentu tidak berdiam diri saja. Sesampainya saya di kota ini, saya langsung survey daycare, saya cari rumah kontrakan yang dekat daycare walau akhirnya harus terpisah dengan teman-teman CPNS yang lain. Hati saya tidak terima saya ada disini, setiap hari menangis, kerja tidak fokus dan tidak ada motivasi. Berulang kali saya meminta resign karena tidak kuat jauh dari anak tetapi tidak dapat terealisasi, karena harus membayar pinalti yang cukup besar dan orangtua saya masih membutuhkan saya. 

Malam itu, saya melihat ada laki-laki di kamar kontrakan saya. Saya teriak, dia langsung mengambil tas saya yang berisi laptop, dompet, dan uang dinas tim sebesar 1,3 juta yang masih dalam tahap pertanggungjawaban laporan. Dunia seakan runtuh, saya merasa salah berada disini, tinggal sendiri di penempatan, tidak ada keluarga, jauh dari anak saya yang masih berusia 16 bulan. ASI saya terhenti karena stress dan jauh dari anak. I lost myself..

Bulan Desember kemarin, saya bersikukuh membawa anak saya tinggal berdua saja di penempatan. Saya yakin mampu menjaganya sendiri, karena saya ibunya. Seminggu disini, anak tersayang saya sakit, batuk-batuk tiada henti, pilek, panas, mukanya kurus, tidak bergairah, tidak ada semangat. Suami memutuskan untuk membawa anak kembali ke Jakarta, dan saya pun menyerah melihat keadannya. Sejak saat itu saya bertekad harus kuat disini demi anak saya dan ....

SAYA HARUS MENDAPATKAN BEASISWA S2

Karena itu merupakan jalan tercepat saya untuk bisa berkumpul kembali bersama keluarga. Saya berazzam pada diri sendiri untuk mengambil master di Inggris tahun 2016, karena baru tahun depan saya dapat mengapply setelah setahun pengangkatan menjadi PNS. Alasan saya memilih Inggris karena masa kuliahnya yang singkat yakni 1 tahun, dan untuk kedepannya saya ingin memiliki keahlian lebih dibanding kawan-kawan yang lain supaya saya dibutuhkan dan dapat dipertahankan kantor pusat di Jakarta. 

Memenuhi koper dari Jakarta dengan buku TOEFL
Jurusan yang saya mau ambil adalah manajemen risiko, karena bidang tersebut menjadi salah satu keutamaan instansi saya. Selain itu jurusan tersebut masih jarang yang mengambilnya. Di Indonesia sendiri jurusan itu tidak berdiri sendiri tapi merupakan bagian dari ilmu manajemen. Sedangkan di Inggris, dipelajari secara khusus.

Setelah lulus, saya mau bergabung memperkuat instansi saya menjadi tim manajemen korporasi sebagai konsultan dalam menyusun manajemen risiko pemerintahan. Ataupun setelah ditempa setahun di Inggris, saya bisa masuk ke bagian hibah luar negeri yang membutuhkan kemampuan bahasa Inggris yang baik. Atau saya bisa mendaftar menjadi widyaiswara, pengajar di bagian pelatihan. Apapun bagiannya asal dekat bersama keluarga. Saya ingin jadi master manajemen risiko!!!!! Mama mau jadi master manajemen risiko, De!!!

Ini langkah awal saya mewujudkan impian menjadi master manajemen risiko:
  1. Memilih kampus. Setelah melihat-lihat detail program studi, persyaratan, biaya, rangking kampus, saya tertarik di 3 kampus ini: University of Southampton, University of Nottingham atau Glasgow University. Sehingga saya bisa fokus apa yang saya harus capai untuk bisa lulus di kampus ini.
  2. Belajar TOEFL. Seharusnya mempelajari IELTS, tapi sebagai awalan, saya belajar TOEFL dulu karena memang saya punya banyak bahan belajar untuk TOEFL. Setiap malam saya belajar TOEFL minimal hingga pukul 12 malam. Target TOEFL saya adalah 600, karena pegawai-pegawai terdahulu yang mendapatkan beasiswa skornya diatas itu. Insya Allah saya juga pasti bisa.
  3. IELTS minimal 6,5 karena memang ini yang dibutuhkan oleh 3 universitas diatas, tapi saya masih belum menemukan cara belajar IELTS yang efektif. Saya masih buta dengan soal-soalnya, mau les IELTS tapi sayang di kota ini belum ada.
  4. Mengumpulkan informasi terkait beasiswa. Ada 3 beasiswa yang saya targetkan yakni LPDP, beasiswa Chevening, beasiswa SPIRIT dan cari masing-masing karakter beasiswa tersebut.
  5. Membaca banyak referensi termasuk jurnal tentang manajemen risiko supaya menambah wawasan 
  6. Berdoa, karena Allah Maha Pemilik langit dan bumi. Tiada segala sesuatu pun tanpa pertolongan Allah 
Tunggu Mama ya, sayang :') *perjalanan pulang dari penempatan
Blog ini juga saya  jadikan sarana belajar utama saya. Saya merangkum materi TOEFL yang sudah saya pelajari, jadi kalau ada tambahan saya bisa mengeditnya dan mengulang kembali apa yang sudah saya pelajari dengan membaca blog sendiri. Saya juga ingin merangkum buku-buku, jurnal-jurnal manajemen risiko dalam blog ini sehingga saya bisa tunjukkan ke calon profesor saya nanti kalau saya serius mendalami jurusan ini. Sekaligus saya ingin menggoreskan setiap jejak langkah kaki saya dalam meraih impian kedalam blog ini dan menjadi pengingat dan penyemangat saya pribadi tentang langkah demi langkah yang telah saya lewati.

Dengan kekuatan cinta (akan menghukummu *ups ini mah Sailormoon yak), kerinduan yang teramat sangat kepada keluarga, kepasrahan sebagai seorang hamba, saya yakin saya mampu tahun 2016 kuliah Master Risk Management di Inggris. Insya Allah
 

13 comments

  1. Mak, keren banget semangatnya. Mudah2an saya tertulari :D

    ReplyDelete
  2. Mak, nice tulisan dan nice perjuangan, semangaaat
    salam dari @guru5seni8 pemilik http://hatidapikiranjernih.blogspot.com

    ReplyDelete
  3. semangat mbak,semoga impiannya segera terwujud, sekolah lagi dan kumpul lagi dengan keluarga.

    ReplyDelete
  4. Glasgow katanya enak ditinggali mak. katanya lho...saya belum pernah sih hihihi... semoga tercapai mak. aaamiiin.

    ReplyDelete
  5. Wah, iya yah. Makasih mak doanya, aminn

    ReplyDelete
  6. wah, cita-cita yang sangat besar nih,bu.

    sebelumnya, salam kenal dari blogger Surabaya ^.^

    ReplyDelete
  7. Semangat, Mak... Semoga terwujud mimpinya... :) Aku juga pingin banget lanjutin S2. Inggris kelihatannya cukup menggoda.

    ReplyDelete
  8. aamiin semoga terwujud ya mak. btw memang kalau jauh dari keluarga apalagi anak sakitnya itu di sini,resiko jadi cpns harus siap ditempatkan dimana pun, kecuali cpns sudah pasti di daerah itu juga. sing semangat mak

    terimakasih sudah berpartisipasi dalam GA wujudkan impian mu, salam hangat dari bogor

    ReplyDelete