Workshop Perencanaan Keuangan Syariah

Sabtu, 6 Juni 2015. Alhamdulillah, dapat kesempatan datang ke workshop ini. Secara saat ini saya domisili di Padang, dan pada waktu workshop itu saya lagi pulang ke Jakarta. Selain itu dapat info dari Mba Kiki, pengisi acara di Karawang sehingga saya bisa kebagian seat untuk pelatihan ini.

Workshop ini diadakan oleh Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) dan kerjasama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang diselenggarakan secara serentak di 9 kota di Jawa Barat yakni Bandung, Cianjur, Ciamis, Cirebon, Garut, Karawang, Sukabumi, Bekasi dan Depok. Narasumber yang mengisi acara di Kota Depok adalah Mbak Prita Ghozie yang cerdas dan cantik, wah keren banget nih. Gratis lagi.


Judul workshopnya adalah Mari Rencanakan Masa Depan Sejahtera. Materi ini disusun oleh tim Komite Bidang Periode 27 yakni Perencanaan Keuangan, Pemberdayaan Perempuan & Sumber Daya Keluarga Masyarakat Ekonomi Keluarga. Untuk kota Depok diadakan di hotel Bumi Wiyata.

Acara dimulai dari sambutan dari Bapak Trisman OJK dan Ibu Aviliani MES. Bapak Trisman menjelaskan tentang makin meningkatnya industri syariah dan makin luas dan bervariasi. Misalnya selain industri keuangan non bank syariah terdapat industri asuransi syariah, dana pensiun syariah, pegadaian syariah, multifinance syariah, modal venture, lembaga keuangan mikro syariah, penjamin syariah dan lembaga jasa keuangan syariah lainnya. Ibu Aviliani mengatakan bahwa masyarakat Indonesia umumnya belum memikirkan hari tua. Karena tidak memikirkan masa tua jadi orang tua di Indonesia hidup susah. Orang Indonesia jarang yang memikirkan asuransi jiwa padahal premi asuransi semakin tua akan semakin mahal sedangkan kalau masa muda maka preminya murah. Dalam planning keuangan, maka terdapat berani ambil risiko dan investasi pasif. Dalam investasi, yang dilihat adalah risiko dulu baru returnnya. Jadilah trending for trend yakni orang yang mensosialisikan ilmu. Yeah mom, I'm a blogger ^.^

Setelah sambutan, maka mulailah masuk ke acara inti. Bapak Yopi Nursali sebagai moderator membuka acara dengan brainstorming bahwa Islam sebagai agama yang mencakup multidimensi terlmasuk lifestyle. Allah telah berjanji mencukupkan rejeki hambanya, namun pada kenyataannya banyak yang merasa kekurangan. Pasti bukan janji Allah yang ingkar, tapi ada faktor lain yakni dalam diri kita dan lingkungan yang tidak tepat dalam mengelola rejeki.

Perencanaan keuangan itu ilmu yang sangat luas. Workshop kali ini membahas tiga bagian, yakni pola pikir untuk berubah, mengatur uang kas dan menyiasati masalah keuangan. 

BAGIAN 1:Pola Pikir untuk Berubah

Tahun 2015, biaya hidup naik tahun ini misalnya sekolah, bensin, transportasi, sembako dan listrik. Sedangkan penghasilan? Biaya hidup tidak bisa kita kendalikan. Penghasilan tidak bisa dikendalikan. Yang bisa kendalikan adalah pengeluaran kita, karena semua itu bisa diatur

Tujuan keuangan sesuai prioritas syariah: mana yang diutamakan
Perencanaan Keuangan:
Syariah:
  1. Tujuan keuangan sesuai prioritas syariah
  2. Proses tidak bertentangan hukum syariah
  3. Investasi sesuai syariah
  4. Berorientasi dunia-akhirat
  5. Aturan khusus tentang zakat dan warisan
Non-Syariah:
  1. Tujuan keuangan bebas
  2. Proses legal dan tidak melanggar hukum
  3. Investasi bebas
  4. Berorientasi dunia

Hirarki Kebutuhan:
  1. Menjaga keimanan: uang untuk menutup aurat
  2. Menjaga kehidupan: uang untuk membeli makanan
  3. Menjaga akal: dituntut belajar, ilmu tidak akan cukup
  4. Menjaga keturunan: kita hidup di zaman kita teerpaksa mengalami biaya kehidupan yang lebih tinggi
  5. Menjaga Harta: proteksi: asuransi
Alokasi Keuangan:
  1. ZIS:  Ada di nomor 1, didahulukan. Ibaratnya uang yang masih licin bukan yang lecek2. Dipikirkan utama
  2. Kehidupan Masa Kini: Sibuk investasi dan kumpulin aset. Tabungan hanya kendaraan, ketika sudah mencapai tujuan maka harus turun (dijual).
  3. Kehidupan masa susah
  4. Kehdiupan masa depan
  5. Kehidupan bermasyarakat (investasi): beda dengan emas yang pasif

Utamakan Kehalalan:
  1. Halal dari dzat
  2. Halal cara perolehan
  3. Halal cara penggunaan dan akibat penggunaan

Investasi Sesuai Syariah
RIBA:
  1. Tambahan yang tidak halal
  2. Belaku zolim
  3. Diberlakukan secara zalim
MAYSIR: Mengambil risiko yang berlebihan (membeli kucing dalam karung), sering diistilahkan judi
GHARAR: Ikan dalam air

SIKLUS HIDUP DAN TUJUAN KEUANGAN

Diawali dengan menikah dan memiliki anak. Menurut riset, di tahun pertama kehiduapn anak, bisa menghabiskan 50 juta ditambah melahirkan terlebih cesar. Lalu ingin punya rumah sendiri: seharusnya sebelum punya kendaraan.
Tapi pada kenyataanna, kalau punya uang, yang dipertama dilakukan adalah: liburan dan kendaraan (karena tampak). Rumah adalah aset terpenting pada aset kita. Setelah memiliki kendaraan, selanjutnya naik haji baru memikirkan liburan setelah itu melihat anak lulus kuliah dan masa tua kita yang harus kita siapkan karena tanggung jawab kita sendiri.

Kita tidak perlu pandai mengatur uang. Kita cuma perlu pandai mengatur diri sendiri dalam menggunakan uang. Pengendalian diri fokus pada internal rumah tangga. Hal kecil berdampak besar, misalnya mengajarkan anak ke toilet sejak lahir: hemat popok, memberi ASI hemat tidak perlu membeli susu

Apa itu inflasi? Inflasi itu seperti barang belanjaan dalam keranjang. Pada tahun 2000 kita bisa membeli 1 full keranjang dengan bahan belanjaan dengan uang 1 juta rupiah, pada tahun 2010 barang belanjaan dengan harga 1 juta rupiah berkurang setengahnya dan tahun 2015 makin sedikit barang yang dapat kita beli dengan jumlah 1 juta rupiah.


Fokus pada Internal Rumah Tangga:
  • Kita tidak bisa mengatur harga bahan makanan, tapi kita bisa mengatur menu di meja makan
  • Kita tidak bisa mengatur harga listrik dan BBM, tapi kita bisa mengatur pemakaiannya
  • Kita tidak bisa mengatur biaya pendidikan anak, tapi kita bisa menyiapkan dananya sendini mungkin
  • Kita tidak bisa mengatur terjadi atau tidak terjadinya bencana, tapi kita bisa menyiapkan diri untuk menghadapi kondisi sulit

BAGIAN 2: Mengatur Arus Kas Rumah Tangga

Sudah berapa banyak aset yang dimiliki?
Sudah berapa banyak impian yang sudah terwujud?

Penerimaan Arus Kas: Gaji, keuntungan usaha, bonus, honor, lain-lain
Prioritas Pengeluaran: Sedekah, Cicilan Hutang, Menabung dan Investasi, Biaya Hidup

BAGIAN 3: Solusi Untuk Menyiasati Masalah Keuangan

  • Perencanaan Keuangan bukan sulap, hitungannya jelas defisit terjadi karena pengeluaran lebih besar dari penghasilan. Maka solusinya jelas yakni: kurangi pengeluaran atau tambah penghasilan
  • Direnungkan kembali: mana yang lebih mudah dilakukan, mana yang lebih cepat dilakukan, mana yang lebih efektif dalam rangka jangka panjang. Misalnya untuk menghemat ada mahasiswa yang sehari makan dua hari tidak makan. Apakah efektif kalau dilakukan dalam jangka panjang?
  • Bagaimana antisipasi pengeluaran dana darurat? Dana cadangan, jangan di dompet. Buat 3-12 pengeluaran bulanan di tabungan, deposito atau LM.
  • Perlunya asuransi misalnya kesehatan, kendaraan
  • Bagaimana menyelesaikan masalah hutang? Restrukturisasi hutang terkait tenor; rescheduling terkait penjadwalan hutang, refinancing yakni memindahkan hutang yang lebih lunak/murah. Terakhir jual aset jika perlu
KESIMPULAN:
  1. Mengatur pengeluaran
  2. Membagi pengeluaran bulanan ke dalam pos
  3. Menambah dana cadangan
  4. Membeli polis asuransi
  5. Cermat sebelum berutang
Yeayy, setelah sesi tanya jawab. Ada juga sosok Bapak Mukhlis yang inspiratif menjelaskan tentang koperasi yang beliau bina. Wah, hari yang menyenangkan.  -senang sekali
Catatan: untuk tahu materi secara lebih mendalam, baca buku Mba Prita Ghozie yang keren ini:

2 comments

  1. penting banget ya emang ini perlu tau perencanaan keuangan syariah

    ReplyDelete
  2. Aku lulusan Mahasiswa Jurusan Perbankan syariah, mbak di SEBI Depok. Related banget sama tema workshopnya.. Sayang, aku nggak bisa dateng. Tapi ada rasa puas membaca postingannya mbak Dwi.

    Terima kasih yaa :)

    ReplyDelete