Sinopsis Flying Colors: Film untuk para Scholarship Hunter

Semalam saya menonton film Flying Colors di youtube. Bagus banget terlebih untuk para scholarship hunter, jadi saya mau sharing ah disini.



Sinopsis:
Flying Color adalah film Jepang tahun 2015. Mengisahkan tentang Kudo Sayaka, siswi kelas 2 SMA yang suka memakai rok mini dan mewarnai rambutnya menjadi pirang. Disekolah, Sayaka menghabiskan waktunya bermain-main sama temen segank nya. Karena tidak pernah belajar sehingga mendapat nilai terendah, sampai akhirnya gurunya menemukan rokok di tas Sayaka dan akhirnya Sayaka diskors.

Sumber: filmku.net
Selama musim panas, Ibunya akhirnya memasukkan Sayaka ke bimbingan belajar dan Sayaka bertemu dengan guru yang bernama Yoshitaka Tsubota. Setelah dites ternyata kemampuan akademik Sayaka setara dengan kelas 4 SD.


Sumber: filmku.net
Guru Tsubota adalah orang dewasa yang pertama kali menghargainya. Sayaka mulai berubah dan akhirnya Sayaka bertekad untuk masuk Universitas Keio, universitas prestisius yang diyakini sebagai salah satu universitas yang sulit dimasuki di Jepang. Sayaka harus berjuang keras untuk mengejar ketertinggalannya, nilai standar deviasi Sayaka 30 sedangkan untuk masuk Universitas Keio standar deviasi adalah 70. 

Di rumah, Sayaka tidak dipercaya oleh ayahnya, namun ibu Sayaka tetap mendukungnya hingga bekerja paruh waktu malam untuk membiayai les Sayaka. Sayaka belajar siang malam untuk membuktikan dirinya kepada orang-orang yang tidak percaya kalau dia mampu untuk masuk Universitas Keio. Berhasilkah Sayaka?

Film ini diambil dari novel yang berdasarkan kisah nyata dari penulis Nobutaka Tsubota yang mendirikan bimbingan belajar dan muridnya Sayaka Kobayashi.

Di film ini saya banyak mendapat inspirasi


Sensei Yoshitaka Tsubota: Guru bimbingan belajar Sayaka, sebagai guru yang menularkan cara pandang positif ke murid-muridnya. Tidak pernah menyerah akan keanehan murid-muridnya. Ketika diawal Sayaka mendapatkan nilai 0, gurunya tetap menghargainya bahwa Sayaka sudah berusaha menjawabnya walaupun salah. Dia tetap berkeyakinan walaupun sulit, Sayaka bisa lulus Universitas Keio

Ibu Sayaka: Seorang ibu yang rela berjuang untuk anaknya, ingin melihat kebahagiaan anaknya. Rela kerja paruh waktu untuk membayar biaya bimbingan belajar Sayaka. Tidak pernah merasa malu dan tetap yakin Sayaka adalah anak yang baik, walaupun berulang-ulang dipanggil ke sekolah saat Sayaka membuat masalah. Selalu mendukung Sayaka (jadi teringat almarhumah ibu yang punya sifat yang mirip dengan ibu Sayaka, selalu berjuang untuk pendidikan anaknya)


Papa Sayaka: Orangnya keras kepala, membedakan perlakuan antara anak perempuan dan anak laki-lakinya. Dia mengharapakan adik Sayaka menjadi pemain baseball profesional. Selalu menjatuhkan mental Sayaka dan menganggap Sayaka adalah anak yang gagal. Namun dibalik itu, sebenarnya memiliki sifat suka membantu orang lain. Disini saya diajarkan untuk tidak memaksakan mimpi ke anak, karena setiap anak mempunyai peran dan potensinya masing-masing. 

Mayumi, adik Sayaka: sifatnya baik sekali dan dewasa, membantu pekerjaan rumah ketika ibunya melakuan kerja paruh waktu malam hari. Mendukung mimpi kakaknya, mengalah menonton televisi ketika Sayaka menyerobot ingin menonton berita dan bersedia uang asuransinya dipakai untuk tambahan biaya les kakaknya. so sweet

Teman-teman Sayaka: walaupun hobi bermain-bermain tetapi mereka mendukung Sayaka untuk lulus ujian universitas dan melepas Sayaka untuk fokus mengejar mimpinya.

Terakhir adalah Sayaka: 
Saya kagum dengan usahanya yang luar biasa dalam belajar, sambil karaoke sama teman-teman tetap belajar dan mengurangi jam tidur sampai ngantuk-ngantuk di siang hari. Merasa tertohok sebagai status scholarship hunter usaha saya masih jauh dari Sayaka.

Saya nangis ketika Sayaka berhenti belajar ketika dia mulai lelah masih mendapatkan nilai E dan belum menampakkan hasil dari usaha belajarnya. Ngerasa 'gue banget' karena saya sering juga capek dan merasa setelah belajar namun tetap nilai TOEFL dan IELTS saya belum mencapai target.

Ketika kita kehilangan pegangan, kita harus ingat kembali tujuan kita. Gurunya mengingatkan ketika Sayaka ingin menyerah: Kau tidak ingin terluka, jadi kau menurunkan tujuanmu. Target yang kamu turunkan lama-lama akan semakin rendah.

Jangan dengarkan apa kata orang, orang yang tidak percaya, orang yang selalu merendahkan, orang yang tidak mensupport. Perjuangkanlah mimpi kita

Selanjutnya, persiapan saat ujian berlangsung juga penting. Di hari ujian, Sayaka salah minum sampai sakit perut dan bolak-balik ke toilet. Pasti ganggu banget kan. Andaikan, kita sudah berusaha tapi ternyata di hari H, ada sesuatu yang terlewat oleh kita misalnya tidak sarapan akhirnya konsentrasi kita terpecah. Jadi, persiapkan hari H juga penting. Misalnya kita sudah tahu tempat ujian sebelumnya atau paling tidak pergi jangan mepet kalau masih mencari-cari lokasi, peralatan disiapkan, sarapan dan makanan diperhatikan.

Terakhir adalah pasrahkan hasilnya kepada Allah

Semangat para scholarship hunter, insya Allah kita bisa. Maksimalkan doa, dan berjuang seperti Sayaka. Miracles can happen to us. Nottingham, I'm coming ^.^

5 comments

  1. Semangat mbak ! Semangat Sayaka !

    ReplyDelete
  2. Kayaknya bagus ini. Jadi penasaran

    ReplyDelete
  3. Selain semangat belajar yang mesti dipelihara, pilihan metode belajar yang pas dengan kita juga mesti diperhatikan. Tentukan target yang kita inginkan dan atur strategi belajar yang pas. Kalau bisa untuk pencapaian target itu dibuat time frame. Jadi kelihatan sudah sampai sejauh mana progress kita.

    Salam kenal mbak.

    ReplyDelete