Proses Pembuatan Batik Tanah Liek (Liat) Sumatera Barat


Alhamdulillah, Maret lalu (lama amat updatenya, beginilah nasib blogger 'mood-mood'an) saya dan teman-teman para blogger, buzzer dan penggiat media sosial se-Sumatera dan Jawa sebanyak kurang lebih 80 orang diberikan kesempatan oleh PT Semen Padang untuk melakukan Visit Green Industry dalam rangka merayakan ulang tahun PT. Semen Padang.

Salah satu kegiatannya yakni mengunjungi salah satu UKM binaan PT Semen Padang yakni Batik Tanah Liek Inaaya yang beralamat di Jl Andam Dewi No 8 Marapalam Padang.

Setibanya disana, kami disambut ramah dengan pengelola dan diceritakan mengenai sejarah batik tanah liek, pembuatannya dan tanya jawab dengan peserta. Tapi sayangnya saya kalah saingan mendapatkan tempat strategis untuk mendengarkan proses cerita (baca: kurang tinggi) dan akhirnya saya menyerah dan duduk mojok aja ditemani semilir angin zzzz...

Baru dapet posisi pas kata penutup hiks
Setelah para peserta melihat outlet dan produk yang ada, selanjutnya kami diajak untuk mengunjungi tempat workshop pembuatannya yang tidak terlalu jauh dari outlet. 

Btw, tanah liek itu artinya tanah liat. Berbeda dengan batik pada umumnya, disini tanah liek digunakan dalam proses pembuatan batiknya. Unik kan?

Di Sumatera Barat, pemakaian batik tanah dahulu hanya ditujukan untuk acara-acara adat dan dipakai oleh pemuka adat seperti:
  1. Datuak (Penghulu atau kepala adat)
  2. Bundo Kanduang (Pemimpin wanita di Minang)
  3. Raja-raja kecil di Sungai Pagu, Solok, Jambu Lipo, Pulau Punjung, Sawah lunto dan Sijunjung
Dipakai sebagai kelengkapan adat biasanya berupa selendang atau saluak/peci. Datuak memakainya dalam bentuk selendang dilingkarkan pada leher. Sedangkan kaum ibu menyampirkan selendang itu di bahu.

Tempat pembuatan batik tanah liek di Marapalam tidak terlalu besar dan masing-masing sudah terpisah berdasarkan tahap-tahapnya. Apa saja tahap-tahapnya? Cus..

Proses Pembuatan Batik Tanah Liat

Tahap 1 (Rendam)

Perendaman dalam larutan air tanah liat. Hasilnya, kain batik memiliki warna dasar cokelat tanah (yang membedakan dari batik pada umumya)

Kain dilarut air tanah liat

Tahap 2 (Motif)

Pembuatan motif batik, yang biasanya diambil dari ukiran rumah adat minangkabau, yang memiliki filosofi dalam setiap gambarnya. Motif ini bisa dibuat dengan cara dicanting/ batik tulis atau dicap/cetak.

Motif batik tulis lainnya juga ada misalnya Malin Kundang, Pucuak Rabuangz, Itiak Pulang Patang, Kerbau Pedati, Bungo Panco, Matoari.

Pengrajin Batik Tanah Liek sedang mencanting
Sedangkan motif batik cap/cetak dapat berupa motif Ukir Saluak dan Aka Basaua, Aka Basaua dan Bungo Matoari, Kucing Lalok dan Tari Piring.

Pengrajin Gadungan sedang Mencap Batik

Tahap 3 (Warna)

Menggunakan pewarna alami:
  • Kulit jengkol untuk warna hitam 
  • Gambir warna orange
  • Kunyit warna kuning
Pewarnaan didapatkan dari warna-warna alami yang lebih ramah lingkungan (pewarna buatan hanya variasi warna)

Awas Air Panass

Tahap 4 (Kering)

Nah setelah semua proses selesai, sekarang beralih ke pengeringan kain batik.

Cantiknyaaa..
Selesai dan batik siap untuk segera dipasarkan.

Nah, buat yang ingin berkunjung ke Sumatera Barat jangan lupa mampir dan beli produk Batik Tanah Liek Inaaya karena motifnya khas Minang banget. Pasti tampil beda ketika kita tampil berbatik

4 comments

  1. waaa seru banget pengalamannya. Keren yah bisa dari tanah liat gitu..

    ReplyDelete
  2. wah ada toh batik padang? waktu ke padang aku atnyakan di museum , tapi kayaknay guidenya gak tahu deh. Wah tahu gitu mau deh lihatnya

    ReplyDelete
  3. ternyata batik ada di seluruh Indonesia ya mbak...bangga jadi orang Indonesia

    ReplyDelete
  4. Ceritaku masih berupa drafft, Kakak...haha. Jadi #GagalMoveOn dari keseruang wisata heritage Maret lalu

    ReplyDelete