Sawahlunto: Wisata Kota Tambang di Sumatera Barat

Kalau ke Sumatera Barat, apa yang pertama kali terlintas di pikiran? Apakah jam gadang? Kisah Siti Nurbaya? Atau Legenda Malin Kundang? Umumnya nih kalau ke Sumbar, wisatawan kebanyakan pergi ke Bukittinggi untuk melihat jam gadang dan berbelanja. Padahal kota lain nggak kalah seru untuk dikunjungi, salah satunya yakni kota Sawahlunto.


Kota Sawahlunto dulunya adalah pusat pertambangan dan bentuk kotanya itu seperti kuali. Jadi kita seperti dikelilingi bukit-bukit. Berasa seperti di film Doraemon dan Nobita, ada bukit-bukitnya. Diatas salah satu bukit ada tulisan Sawahlunto seperti tulisan Hollywood.

Mirip kuali ya?

Kalau dari Padang, naik travel sekitar 3-4 jam.Pertama kali saya sampai disini yakni malam hari, dan terkagum-kagum dengan kota tua ini dimalam hari. Luar biasa cantik.

 

Kalau di Jakarta, ada kota tua dengan beberapa bangunan tua. Disini, bukan beberapa tapi bangunan tua benar-benar tersebar diseluruh kota. Mulai dari bangunan hotel, pegadaian, bank dan pastinya tempat wisatanya. Untuk ke tempat-tempat wisata kalau tidak membawa kendaraan pribadi, kita dapat menggunakan ojek, biaya ojek berkisar Rp 3.000 sekali jalan.Yuk cek apa aja yang ada di Sawahlunto:

Museum Kereta 


Letaknya tidak jauh dari Hotel Ombilin, sekitar 10 menit dengan berjalan santai. Bentuk museum sebenarnya adalah stasiun yang sudah dipakai. Barang-barang koleksinya dapat kita lihat di dalam ruangan kantor stasiun.

Pembangunan jalur Kereta Api dari Padang menuju Sawahlunto dimulai pada tanggal 6 Juli 1889. Disebabkan karena adanya deposit batubara yang akan mengangkut batubara ke pelabuhan Teluk Bayur, yang selanjutnya dikumpulkan dan dibawa ke berbagai negara, terutama ke negara-negara di Eropa. 


Pembuatan jalur kereta api ini pertama kali dari pulau Aie (Padang) ke Padangpanjang selesai pada tanggal 12 Juli 1891. Kemudian dilanjutkan dari Padangpanjang ke Bukittinggi yang selesai pada tanggal 1 November 1891. Setelah itu menyusul pembuatan ke Solok pada 1 Juli 1892. Sementara jalur kereta api dari Solok ke Mauarakalam bersamaan dengan selesainya pembangunan jalur dari Padang ke Telukbayur, tanggal 1 Oktober 1892. Sedangkan jalur Muarakalam ke Sawahlunto dibangun pada tanggal 1 Februari 1894.


Rintangan terberat ditemui dari Muara Kalaban ke Sawahlunto karena jalur kereta api harus menembus bukit sepanjang 828 meter. Pembangunan terowongan kereta api (disebut Lubang Kalam oleh masyarakat) ini memakan waktu 2 tahun.


Untuk masuk ke museum ini, biaya tiketnya Rp 3.000. Setelah itu kita bisa menonton sejarah kereta api di Sawahlunto melalui televisi dan juga benda-benda sekitar perkereta apian, mulai dari jam stasiun, instalasi listrik stasiun dan catatan-catatan sejarah yang dapat dibaca di museum ini.

Lokomotif Mak Itam
Saat ini jalur kereta api tidak aktif secara operasional, namun apabila ada acara tertentu atau festival maka baru diaktifkan kereta api uapnya. Untuk kepala lokomotifnya disebut sebagai mak Itam yang disimpan di belakang museum jika tidak dipakai. Sedangkan untuk gerbongnya disebut gerbong kepresidenan, tapi saya tidak bisa masuk kedalamnya. Jadi sedih..

aku sedih, duduk sendiri lalalala..

Galeri Info Box

Galeri Info Box ini merupakan Gedung Pertemuan Buruh, di gedung ini berbagai aktifitas buruh dan karyawan diselenggarakan. mulai dari pertemuan hingga hiburan seperti wayang kulit dan pemutaran film layar tancap. Awalnya pada tempat berdirinya bangunan Gedung Pertemuan Buruh (GPB) ini adalah lokasi penumpukan batubara hasil galian dari Lobang Tambang Mbah Soero.

Jalan-Jalan Bareng Angel xixi

Pernah mengalami pergantian nama dari GPB menjadi GPK pada tahun 1965 dan menjadi perumahan karyawan pada tahun 1970-an hingga hunian masyarakat pada akhir 2007. Sekarang pada area tersebut berdiri gedung Info Box yang merupakan sarana informasi pariwisata Kota Wisata khususnya mengenai objek wisata lobang tambang Mbah Soero.

Terowongan Tambang Mbah Soero

Lobang tambang Mbah Soero merupakan terowongan tambang pertama di lembah soegar yang dibuka pada tahun 1898. Lobang tambang soegar ini oleh masyarakat disebut juga lobang tambang Mbah Seoro karena dulunya disini bertugas seorang mandor yang bernama Soero. Mandor Soero adalah seorang pekerja keras, tegas dan taat beragama serta disegani oleh para buruh dan orang-orang sekitarnya. 

 
Mengingat tingginya nilai sejarah lobang tambang ini, maka pada tahun 2007 lobang tambang ini dibuka sebagai objek wisata tambang dengan nama objek wisata lobang tambang Mbah Soero. Untuk masuk didalamnya kita diwajibkan memakai sepatu boot dan helm untuk keamanan karena kita akan masuk dengan kedalaman 250 meter dibawah permukaan laut. 

Yang kuning itu untuk aliran oksigen (supaya wisatawan nggak sesak nafas)

Kita akan masuk ditemani pemandu, supaya tidak tersesat didalam karena sebenarnya lubang ini panjang sekali dan belum semua jalur dibuka. Jadi untuk wisata hanya yang sudah dialirkan oksigen di dalamnya. Harga tiket masuk: 8000/orang

Museum Goedang Ransoem

Letaknya tidak jauh dari terowongan Mbah Suro, jalan kaki sekitar 5-7 menitan. Museum Goedang Ransoem dahulunya merupakan dapur umum yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1918 untuk mensuplai makanan bagi para pekerja tambang batubara dan pasien rumah sakit.


Proses memasak dilakukan dengan mengeksploitasi tenaga anak-anak serta proses pembagian makanan buruh tambang yang penuh dengan konflik perampasan antara sesama kuli tambang maupun para pekerja di dapur umum.


Berbagai macam warisan budaya juga ditampilkan dalam galeri etnografi. Terdapat juga galeri Malaka mengenai sejarah dan pariwisata Malaka.

Gaya doang..

Museum dibuka Selasa-Jumat (Jam 08.00 - 16.00 WIB) dan Sabtu-Minggu dan hari libur (Jam 09.00 - 16.00 WIB). Biaya tiket masuk dewasa Rp 4000 dan anak-anak Rp 2000/orang.

IPTEK Centre 

Didalam kawasan Museum Goedang Ransoem terdapat juga IPTEK Centre dengan berbagai macam perlatan dan permainan. Pasti anak-anak senang dibawa kesini, tapi sayangnya banyak yang sudah tidak berfungsi permainannya waktu saya berkunjung disini. 

Sepeda Cakram Warna
Sepeda Cakram Warna: Coba dayung sepeda cakram ini dan dilihat pada ke 7 warna tersebut akan menghasilkan pembiasan cahaya putih. Ini disebabkan spektrum warna adalah pembiasan cahaya putih pada warna yang berbeda. Teori ini dijelaskan oleh Sir Issac Newton. Pada kehidupan kita proses ini terjadi pada pelangi. Pelangi terjadi karena cahaya yang merupakan gelombang pada saat melalui air, mengalami perubahan panjang gelombang. Perubahan panjang gelombang inilah yang menyebabkan terjadinya beberapa warna.

Tapi fotonya fail nih, gegara saya takut sepeda rubuh kalau saya naikkin jadi ngayuhnya pelan-pelan. Badanku duluuuu tak beginiiii...


Ploter Kepala Terpenggal

Ploter Kepala Terpenggal: mengapa bisa hal ini terjadi? Sebelumnya kita pernah belajar tentang pantulan bayangan, pada Ploter Kepala Terpenggal ini kita menggunakan cermin dan kita tahu bahwa sifat dari cermin itu memantulkan bayangan benda yang ada di dekat cermin. Di lorong seribu bayangan ini kita menggunakan dua sisi cermin yang berhadapan dengan benda yang ada didepan cermin. Maka cermin-cermin yang ada pada Ploter Kepala Terpenggal ini akan memantulkan bayangan benda yang berada disekitarnya itulah sebabnya badan kita tidak terlihat pada alat ini.

Cermin seribu bayangan
Cermin Seribu Bayangan: Mengapa hal ini bisa terjadi? Nggak tahu, nggak ada penjelasannya. Tapi kalo foto jadi lucu *ehhh..

Puncak Cemara dan Monumen Kesetiaan

Nah, kota ini juga menarik dengan wisata malamnya. Namanya puncak cemara, cantik kan? Menurut penduduk sekitar, kalau malam berasa seperti di Hongkong. 


Taman di puncak cemara rapi dan bersih, ada rumah pohon yang unik dan yang kekinian adalah monumen kesetiaan. Kalau di Korea, ada gembok cinta sedangkan di Sawahlunto ada monumen kesetiaan. Kita bisa beli gembok seharga Rp 25.000 disini dan lempar kuncinya ke bukit samping monumen ini.


Sayangnya gemboknya kurang unyu (berasa gembok kosan). Pasti lebih menarik kalau gemboknya warna-warni. Puncak cemara ini agak jauh tempatnya karena diatas bukit. Kemarin saya naik ojek, bolak balik bayar Rp 20.000 (kurang tahu ini mahal apa standar)

 

Tempat Menginap

Hotel Ombilin
Untuk menginap, kita dapat menginap di hotel Ombilin. Hotel Ombilin masih termasuk cagar budaya loh. Jadi didalamnya ada benda-benda bersejarah, hotelnya pun buatan Belanda dengan ciri khas langit-langit kamar yang tinggi. Tempatnya strategis dan ditengah pusat kota.

Sejarah hotel Ombilin dibangun pada tahun 1918. Fasilitas hotel ini dibangun dalam rangka memenuhi kebutuhan penginapan para tamu dan pejabat perusahaan atau pemerintah Belanda yang berkunjung ke Sawahluno. Fasilitas penginapan ini tercatat beberapa kali mengalami peralihan fungsi diantaranya sebagai asrama tentara Belanda masa agresi I dan II, sebagai kantor Polisi Resor Sawahlunto, sebagai klinik Perusahaan Tambang Batubara Ombilin dan sebagai Wisma Ombilin, lalu kembali dengan nama hotel Ombilin atau Heritage Hotel Ombilin.

Alternatif menginap lainnya yakni hotel Parai yang lokasinya dekat dengan pasar. Kalau kita menginap di lantai 3, viewnya oke dan ada balkonnya jadi bisa nyari inspirasi disana sambil melihat lalu lalang di Sawahlunto. Kalau mau menginap dengan biaya lebih terjangkau juga (baca di blog lain) bisa menginap di Guest House. Tapi saya kurang tahu informasi lebih lanjutnya.


Untuk oleh-oleh, kita dapat membeli souvenir unik seputar Sawahlunto di pasar atau kalau mau simpel bisa di toko depan hotel Ombilin mulai dari kain songket, batubara yang dihias, sendal-sendal lucu, baju Sawahlunto dan lainnya. Tidak jauh dari sana, ada juga rumah cokelat yang menjual berbagai macam dan bentuk coklat.

Masih ada beberapa tempat wisata lagi misalnya Danau Kandi, waterboom, Danau Biru, arena terbang layang dan ada juga makam pejuang M.Yamin. Selepas pulang, saya merasa bersyukur hidup di zaman kemerdekaan. Pasti waktu penjajahan dulu berat banget, anak-anak kecil dipaksa memasak, zaman kerja paksa oleh penjajah. Misalnya nih, 10 menit saja saya di lobang tambang Mbah Soero tuh keringat keluar deras dan sesak di dada. Bagaimana dengan orang-orang yang memang bekerja didalam sana.

Jadwal Wisata Sawahlunto

Jadi, kalau ke Sumbar jangan lupa main ke Sawahlunto untuk melihat indahnya kota Sawahlunto sekaligus belajar sejarah hehe. Menurut saya, kota ini kota wisata dengan full package. Kota sejarah yang cocok untuk semua usia, mulai dari anak-anak (ada danau dan waterboomnya), remaja dan dewasa (dari wisata sejarahnya) dan tentu wisata malam yang ajib. Reccomended!!

2 comments

  1. masih bingung dengan yang kepala terpenggal itu. tapi duu waktu kecil sering liat di pasar malam.

    ReplyDelete
  2. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai "Sawahlunto: Wisata Kota Tambang di Sumatera Barat".
    Indonesia memang mempunyai berbagai tempat wisata yang menarik

    Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai Pariwisata Indonesia yang bisa anda kunjungi di Informasi Seputar Pariwisata

    ReplyDelete